Tampilkan postingan dengan label Pesawat Pengintai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Pengintai. Tampilkan semua postingan

Update : Iran Memanupulasi Data GPS ScanEagle

Selasa, 04 Desember 2012
TEHRAN-(IDB) : Christian Science Monitor dalam laporanannya menulis, para ahli Iran mendaratkan pesawat tanpa awak Amerika Serikat dengan mengubah data-data GPS pada pesawat tersebut.

FNA (4/12) melaporkan, Christian Science Monitor dalam laporan terbarunya menganalisa metode yang digunakan pasukan angkatan laut Padaran untuk menangkap pesawat tanpa awak ScanEagle di perairan Teluk Persia.

Memperingati satu tahun penangkapan pesawat tanpa awak RQ170 "Sentinel" oleh pasukan Iran, Panglima Angkatan Laut Pasdaran, Laksamana Ali Fadavi, mengkonfirmasikan penangkapan pesawat tanpa awak ScanEagle.

Christian Science Monitor memperkirakan bahwa cara yang digunakan pasukan Iran untuk menjebak ScanEagle adalah dengan memanipulasi data GPS pada pesawat tersebut.

Menurut laporan yang ditulis oleh Peterson itu, jika klaim Iran menangkap pesawat tanpa awak itu benar, maka Republik Islam berhasil menggunakan cara yang sebelumnya digunakan untuk menangkap drone RQ170.

Peterson berpendapat, dengan memanipulasi data-data GPS, pasukan Iran memaksa pesawat itu mendarat di wilayah Iran.

Washington Enggan Mengakui Penangkapan ScanEagle oleh Iran

Berita penangkapan pesawat tanpa awak ScanEagle Amerika Serikat oleh Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) telah menjadi berita utama di berbagai media dunia. Namun para pejabat Washington menunjukkan sikap pasif sama seperti ketika pasukan Iran berhasil menangkap "Sentinel" atau RQ170.  

Humas Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) Selasa (4/12) mengkonfirmasikan penangkapan sebuah pesawat tanpa awak Amerika Serikat oleh pasukan angkatan laut Pasdaran di kawasan Teluk Persia.

Laksamana Ali Fadavi, Komandan Pasukan Angkatan Laut Iran mengatakan, ScanEagle biasanya diterbangkan dari atas kapal besar.

Berita pencidukan pesawat tanpa awak ScanEagle produksi Boeing ini langsung menjadi headline di berbagai media dunia.

Sama seperti ketika pasukan Iran berhasil menangkap pesawat mata-mata canggih Amerika Serikat RQ170 atau Sentinel, para pejabat Washington bungkam dan enggan berkomentar terkait penangkapan drone ScanEagle kali ini.

Jason Salata, juru bicara Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain, ketika diserbu pertanyaan para wartawan, menepis berita penangkapan drone ScanEagle oleh Pasdaran, namun dia mengakui bahwa beberapa waktu lalu, satu unit pesawat ScanEagle hilang.





Sumber : Irib

Iran Lagi-Lagi Sukses Ciduk Pesawat Tanpa Awak AS

TEHRAN-(IDB) : Humas Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) mengkonfirmasikan penangkapan sebuah pesawat tanpa awak Amerika Serikat oleh pasukan angkatan laut Pasdaran di kawasan Teluk Persia.
 
Humas Pasdaran pada Selasa (4/12) menyatakan, pasukan Pasdaran menangkap sebuah pesawat tanpa awak AS yang melanggar zona udara Republik Islam Iran. Demikian dilaporkan IRNA.
 
Menurut pernyataan tersebut, pasawat tanpa Awak AS,ScanEagle selama beberapa hari lalu berpatroli di wilayah Teluk Persia dan memasuki zona udara Iran untuk misi identifikasi dan mengumpulkan data. Namun pesawat tersebut keburu terjebak ke dalam unit pertahanan dan sistem kontrol Angkatan Laut Iran.
 
Laksamana Ali Fadavi, Komandan Pasukan Angkatan Laut Iran mengatakan, ScanEagle biasanya diterbangkan dari atas kapal besar.
 
Ia juga menyinggung kesiapan pasukan angakatan laut Pasdaran dalam menjalankan misinya dan mengawasi gerak-gerik pasukan asing di wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz.
 
"Pasukan angkatan laut Pasdaran dalam kesiapan yang terbaik," tandasnya. 





Sumber : Irib

X-47B Drone Baru Amerika

Jumat, 30 November 2012
WASHINGTON-(IDB) : Amerika Serikat tengah mengembangkan pesawat nirawak (drone) robot pintar yang dikendalikan dengan kecerdasarn artifisial (artificial intelligence). Pesawat ini dapat berpikir dan menentukan target sendiri, dengan sedikit sekali campur tangan manusia.

Diberitakan Daily Mail, Kamis 29 November 2012, drone tipe X-47B ini tengah diuji di tengah laut. Jika drone ini mampu melewati seluruh ujian yang dilakukan, maka alat pembunuh ini bisa secara mandiri mendarat dan bertugas di kapal induk AS.

Dikembangkan selama lima tahun, drone X-47B dirancang untuk bisa mengudara dan terbang dengan hanya beberapa kali klik pada mouse. Tidak seperti drone model sebelumnya, X-47B tidak akan dikendalikan dengan pengendali oleh manusia.

Drone ini memiliki unit pengendali canggih yang mampu berpikir secara independen, melakukan tugas dengan benar dan menentukan sendiri target selanjutnya. Walaupun X-47B mampu menentukan target sendiri, namun Pentagon menjamin bahwa yang menekan pelatuk untuk menembak adalah manusia.

Pengujian pesawat ini dilakukan di Chesapeake Bay dekat Sungai Patuxent, Maryland, Senin lalu. Dalam pengujian, dilakukan beberapa manuver operasi yang diluncurkan dari kapal induk USS Harry S. Truman.

Pesawat ini dirancang oleh perusahaan Northrop Grumman yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan aviasi militer terkemuka AS, seperti Pratt & Whitney dan Lockheed Martin.
Drone menjadi andalan AS dalam menghancurkan musuh, terutama di wilayah-wilayah terpencil di Pakistan atau Afganistan. Menurut data New American Foundation, dalam 337 serangan drone sejak tahun 2004, lebih dari 3.000 orang tewas.
Banyak juga warga sipil dan anak-anak yang menjadi korban serangan drone. Warga Pakistan harus hidup dalam ketakutan karena setiap saat mereka bisa dihantam roket drone AS.




Sumber : Vivanews

Mesir Beli 10 Anka UAV Produksi Turki

Rabu, 21 November 2012
KAIRO-(IDB) : Mesir akan menjadi negara pertama yang membeli pesawat tanpa awak dari Turki, harian Today's Zaman, Selasa (20/11) melaporkan.
 
Keputusan itu diambil setelah kunjungan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan ke Kairo pekan lalu ketika Turki dan Mesir menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama, beberapa meliputi industri pertahanan.
 
Negara Afrika Utara itu diperkirakan akan memperoleh 10 Anka dari Turki. Laporan itu mengatakan pihak berwenang Mesir telah berhubungan erat dengan mitra-mitra mereka di Turki untuk pembelian Anka.
 
Dengan lebar sayap 56 kaki, kemampuan terbang dengan kecepatan 75 knot per jam dan mencapai ketinggian 30.000 kaki (9.144 meter), pesawat tanpa awak tersebut mampu terbang selama 24 jam pada suatu waktu. 





Sumber : Irib

Masih pentingkah AWACS ...???

Kamis, 15 November 2012
Apakah perang udara masa depan yang melibatkan pesawat generasi ke-5 seperti F-22, T-50 PAK FA, J-31 dan F-35 masih memerlukan kehadiran AWACS (radar terbang)?



ANGKASA-(IDB) : Dari berbagai sumber USAF diketahui bahwa dengan kecanggihan pesawat generasi kelima maka kebutuhan akan AWACS (Airborne Warning and Control System) lebih kecil. Apalagi sistem perang udara lawan juga dirancang untuk menghancurkan radar terbang lawan. Dalam latihan perang di Nellis AFB yang berlokasi di atas gurun Nevada ditemukan fakta bahwa pesawat AWACS yang ditempatkan ratusan mil di belakang garis pertempuran tidak bisa memberikan gambaran menyeluruh tentang ancaman pesawat lawan sebaik gambaran ancaman udara yang dihasilkan dari sensor pesawat F-22.

Bertempur dengan pesawat generasi keempat masih sangat membutuhkan kehadiran pesawat AWACS untuk mendapatkan informasi “Situation Awareness” (Kewaspadaan Situasi) di atas medan perang. Namun dengan kemajuan sensor pesawat generasi kelima seperti F-22 dan F-35 maka kebutuhan bantuan informasi tersebut sangat berkurang. Memang kehadiran AWACS masih tetap membantu meningkatkan kewaspadaan, namun dalam situasi dimana sistem lawan juga bertambah canggih maka AWACS terkadang tidak bisa tersedia karena terlalu berisiko.

Perbedaan antara bertempur dengan pesawat tempur generasi keempat dengan generasi kelima cukup signifikan. Perbedaan utama adalah pesawat tempur generasi keempat menggunakan sensor yang bermain pada spektrum RF yang berbeda. Penerbang harus berkomunikasi dengan kata (verbal) lewat radio untuk membangun gambaran tiga dimensi tentang situasi di depan pesawat. Selanjutnya penerbang membagi tanggung jawab pada ruang udara tertentu untuk menyaring lawan dan membagi tanggung jawab. Budaya kerja sama dan komunikasi di antara penerbang dan pengendali radar terbentuk disini.

Pesawat generasi keempat memiliki sensor radar warning receiver, jammer, komunikasi data, dan berbagai peralatan independen yang harus dikelola dengan baik dalam sebuah konsep sistem operasi yang membutuhkan kemampuan manajemen tempur penerbang.

Dengan pesawat generasi kelima, penggunaan radar aktif (AESA) dan berbagai sistem independen tersebut sudah menggabungkan semua data situasi udara dalam layar glass cockpit yang mudah dibaca. Penerbang tidak usah terlalu repot dengan manajemen sistem pesawat yang rumit, sistem pesawat sudah membantu menyajikan dalam data yang mudah digunakan.

Pesawat generasi kelima akan menyajikan informasi lengkap tentang kawan dan lawan layaknya tayangan “battle manager” dalam pesawat AWACS dari semua sensor yang ada dalam pesawat, dari pesawat kawan, dari radar bawah, dari radar terbang, dari satelit, dari kapal angkatan laut, dari pasukan darat, dan dari UAV (pesawat nirawak). Penerbang bisa mengatur ritme operasi dengan data yang dibutuhkan sesuai kebutuhan operasi. 





Sumber : Angkasa

Update : Pesawat Tanpa Awak di Bintan Adalah Untuk Target Tembak

Senin, 12 November 2012
JAKARTA-(IDB) : Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marskal Madya Azman Yunus, mengatakan pesawat tanpa awak yang ditemukan oleh nelayan di perairan Pulau Pucung, Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan, Kepulauan Riau, Senin 12 November 2012, bukan pesawat mata-mata. "Itu sudah dipastikan pesawat target," kata Azman saat berbincang dengan VIVAnews.

Menurut Azman, pesawat target yang ditemukan seorang nelayan bernama Mukri itu memiliki panjang sekitar 2,5 meter. Sementara rentang sayapnya sekitar 2 meter. Badan pesawat didominasi warna merah, sedangkan sayapnya dominan warna kuning. Selain itu ditemukan juga sebuah parasut.

Pesawat target, Azman menjelaskan, merupakan sasaran tembak dalam sebuah latihan. Pesawat tersebut biasanya dijatuhkan dari pesawat terbang, kemudian dijadikan target tembak dari kapal atau dari bawah. "Makanya ditemukan juga parasut. Kalau pesawat mata-mata pakai mesin, tidak pakai parasut," papar dia.

Keyakinan bahwa benda ini merupakan pesawat target juga diketahui dari tulisan yang tertera. Pada pesawat itu, tertera tulisan "target drone". Selain itu, ada juga atulisan "Banshee" pada badan pesawat ini. Meski demikian, hingga kini belum diketahui pesawat target milik siapa yang ditemukan itu. "Kami belum tahu, bisa saja punya kita, atau bisa juga punya Malaysia," kata Azman. 


Panglima TNI: Radar RI Sulit Deteksi UAV Yang Terbang Rendah

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, mengaku belum menerima laporan penemuan pesawat "target drone" di perairan Pulau Pucung, Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan, Kepulauan Riau, Senin pagi 12 November 2012. TNI Angkatan Udara belum melaporkan penemuan itu.

Menurut Agus, pesawat tersebut belum tentu milik TNI AU. Bisa saja pesawat itu berasal dari luar wilayah Indonesia. "Mungkin (pesawat itu) dari negara lain. Nanti saya cek dulu pokoknya," kata Agus.

Agus menjelaskan, pertahanan Indonesia memang harus mewaspadai pesawat-pesawat tanpa awak seperti ini. Apalagi jika pesawat tanpa awak itu difungsikan untuk mata-mata. Tentu akan berbahaya untuk keamanan negara.

Namun sayangnya, upaya untuk mendeteksi pesawat-pesawat tanpa awak di wilayah Indonesia sedikit terhambat. Radar pertahanan Indonesia tidak bisa mendeteksi pesawat-pesawat yang terbang sangat rendah. "Radar kita ketinggian. Kalau pesawat tanpa awak itu diterbangkan hanya 100 meter di atas permukaan laut, pasti tidak akan terdeteksi. Oleh karena itu pesawat-pesawat seperti ini harus kita waspadai terus," kata Agus.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Maskal Madya Azman Yunus, memastikan pesawat yang ditemukan itu bukanlah pesawat mata-mata. Pesawat ini merupakan pesawat target. Biasanya, pesawat ini dijatuhkan dari pesawat dan kemudian dijadikan sasaran tembak dari bawah. 




Sumber : Vivanews

Pesawat Tanpa Awak Jatuh Di Bintan Kepri

Minggu, 11 November 2012

BATAM-(IDB) : Pesawat tanpa awak ditemukan di perairan Tanjung Berakit, Bintan, Kepulauan Riau. Belum diketahui siapa pemilik pesawat tersebut.

Pesawat ditemukan oleh nelayan setempat, Mukri, Senin (12/11/2012). Penjangnya sekitar 2,5 meter, bodi didominasi warna merah dan sayap berwarna kuning. Ada parasut berwarna oranye di dalamnya. Di badan pesawat tertulis "Banshee 5498".

Kapolsek Gunung Kijang AKP H Butar Butar mengatakan, pesawat yang ditemukan oleh nelayan itu diduga jenis pengintai. "Sepertinya pesawat pengintai. Tapi kami akan kroscek dulu," katanya.

Polisi juga akan berkoordinasi dengan TNI AU untuk mengetahui kemungkinan pemilik pesawat tersebut.

Sementara, otoritas Bandara Tanjungpinang Kepri, memastikan berdasarkan pantauan di bandara Tanjungpinang, Batam dan Singapura, tidak ada musibah pesawat jatuh hari ini. Terutama di wilayah Kepri.

"Untuk pantauan hari ini sama sekali tidak ada musibah kecelakaan pesawat jatuh di wilayah Kepri," ujar Radar Supervisor Bandara Tanjungpinang, Yoga Wicaksono kepada detikcom.




Sumber : Detik

Untuk Di Kawasan SDM Indonesia Masih Paling Jago Soal Produksi UAV

Senin, 05 November 2012
BANDUNG-(IDB) : Teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia diklaim paling maju di kawasan Asia Tenggara. Misalnya dibandingkan dengan negara Malaysia dan Singapura.

"Malaysia masih di bawah kita. Bahkan dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya seperti, Singapura, kita masih lebih bagus," ungkap Ketua Jurusan Aeronautika dan Astronautika Fakultas Teknik Mesin Penerbangan (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) Taufiq Mulyanto, kepada Okezone, Sabtu (3/11/2012).

Sejak kemarin Jumat 2 November hingga Minggu 4 November mendatang, FTMD ITB menggelar kontes pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) lewat Indonesia Aerial Robot Contest (IARC) 2012 di Lanud Sulaeman, Soreang, Kabupaten Bandung.

Lanjut Taufiq, memang Singapura memiliki resource yang bagus. Namun jika ditelusuri, SDM-nya justru dari Indonesia, misalnya dari ITB.

"Malaysia juga belum (UAV-nya belum maju), dapurnya di kita," tambahnya.

Makanya dengan dihelatnya IARC 2012, semangat untuk mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia makin meningkat. "Lewat event ini bendera kita harus terus berkibar," ujarnya.

IARC 2012 merupakan acara tahunan FTMD ITB yang sudah digelar sejak 2008. Kali ini, IARC berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana acara dihelat di outdoor. Biasanya, IARC ITB digelar di ruangan FTMD ITB, Jalan Ganeca, Bandung. Sehingga tantangan peserta IARC kali ini akan lebih berat.

"Sebelumnya pada September kami telah melakukan workshop, dan survei tentang bagaimana jika dilakukan kontes outdoor. Sehingga kesiapannya sudah diperhitungkan," terangnya.

Ada tiga tujuan utama kenapa IARC. Kata Taufiq, intinya acara ini ingin menumbuhkan semangat inovasi khususnya bidang UAV, bukan hanya sekedar kontes menang kalah.

Kedua, kata dia, diharapkan ada kolaborasi antara ilmu di perguruan tinggi dan sekolah tingkat SMA.

"Ketiga, ada proses, kita enggak lihat hasil akhir saja tapi penguasaan teknik UAV di Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, teknologi UAV Indonesia tentu sangat jauh ketinggalan jika dengan UAV di negara maju misalnya Jepang.

Jika dihitung-hitung, teknologi UAV di negara maju sudah ada sejak 20 tahun lalu. "Ya ketika dibandingkan dengan kita, ibarat bayi dengan pelari. Jadi perlu investasi waktu supaya UAV di Indonesia maju. Di kita sendiri bentuk UAP baru ada 2004, kalau penelitiannya sejak 94," ceritanya. 




Sumber : Okezone

Hanggar Skuadron Intai TNI AU Siap Beroperasi

Jumat, 02 November 2012
JAKARTA-(IDB) : TNI AU sudah menyiapkan hanggar untuk skuadron pesawat tanpa awak. Rencananya skuadron ini akan ditempatkan di Pontianak. Pengadaan skuadron ini sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan). "Hanggar sudah selesai. Tinggal menunggu kedatangan pesawatnya," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Azman Yunus, saat dihubungi Koran Jakarta, Kamis (1/11).

Azman mengatakan skuadron pesawat tanpa awak ini akan difokuskan untuk memantau perbatasan. Itu alasan mengapa pesawat tersebut akan ditempatkan di Pontianak karena dekat dengan sejumlah perbatasan. Nantinya, pesawat juga akan dilengkapi peralatan berupa pengintaian hingga radar untuk memantau cuaca.

Pesawat yang sedang ditunggu kedatangannya itu dipastikan bukan pesawat buatan Indonesia. "Ya, pesawat dari luar (negeri). Pesawat dalam negeri belum memenuhi kebutuhan operasi yang kami ajukan," kata Azman. Dia menambahkan alasan lain memilih produk luar negeri karena daya jelajahnya yang tinggi.

"Kami membutuhkan pesawat tanpa awak yang memiliki daya jelajah hingga 400 kilometer. Dan industri di dalam negeri belum ada yang bisa membuatnya," tambah dia. Dia juga mengatakan belum menghitung berapa pesawat yang akan didatangkan untuk memenuhi skuadron tersebut, termasuk TNI AU juga belum menentukan siapa yang nanti dipercaya mengomandani skuadron itu.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan keberadaan skuadron pesawat tanpa awak perlu untuk mengefektifkan pengamanan perbatasan. "Sementara ini, skuadron yang akan kita bangun memang untuk pengintaian dan pengamatan wilayah," kata Purnomo.

Kepala Staf TNI AU, Marsekal Imam Sufaat, mengatakan TNI AU menginginkan pesawat tanpa awak yang memiliki daya jelajah dan daya tahan yang lama. Dan pilihan itu jatuh pada pesawat tanpa awak asal Filipina yang teknologinya dari Israel. Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, saat rapat dengan Komisi I, mengatakan akan membeli 4 pesawat intai tak berawak dengan anggaran 16 juta dollar AS.




Sumber : KoranJakarta

Israel Perkenalkan UAV Barunya

Selasa, 23 Oktober 2012
TEL AVIV-(IDB) : Untuk meningkatkan pengawasan wilayah lautnya, Israel memperkenalkan armada pengintaian udara tanpa awak (UAV) yang baru minggu lalu (14/10/2012). UAV baru yang diberi nama Heron 1 (Shoval) ini diklaim memiliki kecepatan lebih tinggi dan dapat mengidentifikasi lebih akurat dibanding UAV yang lama.

Heron 1 merupakan pengembangan dari UAV Shoval yang telah digunakan Israel sebelumnya. Melengkapi armada baru tersebut dilengkapi dengan radar terbaru yang mampu mengidentifikasi kapal dan pesawat asing berjarak 300 km. Artinya, Heron 1 dapat mengidentifikasi ancaman yang masih berada di Siprus, Mesir, dan Turki. Pengembang Heron 1, Israel Aerospace Industries (IAI) juga melengkapi Heron 1 dengan kamera pengintai yang lebih tajam sehingga dapat merekam dengan detil setiap objek yang mencurigakan.

UAV baru ini diperkenalkan tepat seminggu setelah Shoval menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak asing yang masuk ke wilayah udara Israel bagian selatan. Pasukan pemberontak Hezbollah mengklaim pesawat tersebut adalah milik mereka dan mereka telah berhasil menjalani misi pengintaiannya. 




Sumber : Angkasa

Ternyata, "Drone" Israel Gampang "Loyo"

Senin, 22 Oktober 2012
TEL AVIV-(IDB) : Catatan dari Harian Yedioth Ahronoth menunjukkan kalau beberapa pesawat tanpa awak yang biasa dipakai Angkatan Udara Israel (IAF) untuk pertempuran (UAV) alias "drone" buatan dalam negeri mengalami kerusakan mesin saat dioperasikan. Alih-alih sukses menggempur sasaran, pesawat canggih itu malah sering jatuh atau minimal, mendarat darurat.

Paling anyar, Senin (22/10/2012), koran Israel itu menulis soal sebuah "drone" yang terpaksa mendarat darurat meski sudah terbang menuju sebuah sasaran di Lebanon pada Minggu (21/10/2012). Sumber militer yang dikutip media itu mengatakan kalau "drone" naas tersebut terbilang piranti paling canggih rilisan bikinan perusahaan milik negara Israel, Israel Aerospace Industries. "Pesawat mengalami kerusakan mesin," begitu kata sumber tersebut.

Seminggu sebelumnya, miniatur "drone" berjuluk Sky Rider yang bertugas mengumpulkan informasi taktis dinas rahasia terjerambab di Nablus, Tepi Barat. Beruntungnya, UAV tersebut ditemukan tim pencari dalam kondisi utuh. "Soalnya, bantalan udara sukses meredam jatuhnya pesawat," tutur sumber itu.

Pada Januari lalu, giliran Eitan atau yang sohor dengan nama lain Heron TP juga terseok-seok di udara untuk akhirnya jatuh mencium tanah. Insiden dalam uji coba itu terjadi di Pangkalan IAF Tel Nof.

Meski IAF menyembunyikan penyebab jatuhnya pesawat itu, media lokal mewartakan kalau Eitan mengalami patah pada kedua sayapnya. "Soalnya pesawat itu keberatan beban karena mengangkut perangkat-perangkat kamera dan radar," tulis media tersebut.

Anggaran Program Drone Israel

Israel memang serius mengembangkan UAV di dalam negeri. Paling tidak, untuk membuat Eitan, Israel sudah merogoh kocek hingga 35 juta dollar AS per unit. Eitan sampai kini menjadi salah satu senjata andalan IAF di Skadron Ke-210.

Seorang pakar independen asal Israel yang tak disebutkan namanya sempat menganalisa kalau Eitan mampu membawa peluru kendali dan persenjataan lainnya hingga menembus jantung wilayah Iran. Padahal, jarak kedua negara mencapai 1.200 kilometer.

Israel saat ini memang menempatkan UAV sebagai pengembang tugas untuk menggempur Jalur Gaza. Tugas "drone" makin komplet mulai dari pengusung rudal mematikan, pencari persenjataan tersembunyi pihak Palestina, hingga pembunuh mereka yang oleh Israel disebut sebagai kelompok militan bersenjata.





Sumber : Kompas

Iran Kembangkan UAV Daya Jelajah 2.000 Km Berdurasi 24 Jam

Kamis, 18 Oktober 2012
TEHRAN-(IDB) : Ketua Lembaga Industri Penerbangan Iran, Manochehr Manteqi menyatakan, Iran telah merancang selesai merancang pesawat tanpa awak berjelajah 2.000 kilometer yang akan dipamerkan.
 
Manteqi dalam wawancaranya dengan Fars News (17/10), menyinggung berbagai jenis pesawat tanpa awak dan mengatakan, "Pesawat tanpa awak memiliki berbagai tipe khusus dari mulai 200, 1.000 sampai 1.500 kilometer, dengan kemampuan terbang di ketinggian 30.000 kaki dan dapat beroperasi hingga 15 jam."
 
Ditambahkannya, "Tipe berikutnya adalah pesawat tanpa awak yang mampu terbang di ketinggian hingga 50.000 kaki dengan durasi operasi dari 20 hingga 24 jam dan memiliki daya tempuh hingga 2.000 kilometer."
 
Manteqi menjelaskan, "Yang jelas ketika kami berbicara tentang kepemilikan kami di tipe pertama, maka kami juga mampu membuktikannya di tipe ke dua dan ketika. Saat ini kami sedang menggulirkan program produksi di tipe kedua dan ketiga dan dalam hal ini kami sudah mencapai sejumlah keberhasilan."
 
"Kami baru akan mampu memamerkan keberhasilan kami di bidang ini ketika kami telah melakukan berbagai tes. Oleh karena itu mungkin saja kami sudah memproduksinya, akan tetapi karena masih dalam tahap ujicoba, oleh karena itu kami belum bisa memamerkannya," tutur Manteqi.
 
Di akhir wawancaranya, Manteqi memprediksikan dua sampai tiga tahun mendatang, keberhasilan Iran di bidang pesawat tanpa awak itu akan dipamerkan. 





Sumber : Irib

Pesawat Pengintai Israel Mendarat Darurat

TEL aVIV-(IDB) : Pesawat tanpa awak rezim Zionis Israel untuk kedua kalinya harus mendarat darurat karena gangguan teknis padahal pesawat pengintai tersebut telah menjalani perbaikan dan optimasi.
 
Sebuah pesawat mata-mata Israel pada Rabu (17/10) terpaksa mendarat darurat di Tepi Barat saat kembali dari misinya. Demikian dilaporkan Fars News mengutip DPA.
 
Koran ZionisYediot Aharonot dalam situsnya menulis, pesawat tanpa awak dari jenis Sky Ryder ini terpaksa mendarat darurat di dekat Tepi Barat karena masalah teknis. Militer Israel langsung menuju lokasi pendaratan dan mulai menginvestigasi insiden tersebut.
 
Pesawat pengintai itu mengalami kerusakan kecil akibat tabrakan saat emergency landing dan militer rezim Zionis tengah meneliti penyebab kerusakan teknis untuk mencegah masalah ituterulang kembali.
 
Sky Ryder merupakan pesawat tanpa awak terkecil Israel yang digunakan untuk operasi pengintaian. Namun tampaknya pesawat ini tidak bekerja dengan baik. Beberapa bulan lalu dilakukan perbaikan dan optimasi akibat jatuhnya sebuah pesawat dari jenis ini, namun tak lama kemudian hal itu terjadi lagi.
 
Kesalahan teknis pesawat-pesawat tersebut menunjukkan ketidakefisienan produk ini padahal Israel mengklaim Sky Ryder adalah salah satu pesawat pengintai tercanggih dalam jajaran militernya. 




Sumber : Irib
 

Gossip Selebrities Copyright © 2011-2012 Supported by: cara membuat blog | Powered by Blogger