Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan

Indonesia Gelontorkan Rp. 3.8 - 7.6 Triliun Untuk 40 Unit Astros Generasi Terakhir

Jumat, 23 November 2012
JAKARTA-(IDB) : TNI akan membeli sistem peluncur roket paling mutakhir dari produsen senjata Avibras yang bermarkas di Sao Jose dos Campos, terletak di negara bagian Sao Paulo Brazil, untuk mempersenjatai salah satu batalion khususnya.

Kesepakatan pembelian ini diteken dua pekan lalu di Jakarta berisi nota jual-beli alat utama sistem senjata bernilai antara US$400-800 juta (Rp 3,8 sampai 7,6 triliun) yang diduga meliputi sekitar empat puluh unit kendaraan peluncur roket canggih.

Seperti ditulis koran O Estado de Sao Paulo, peluncur roket dengan Sistem Roket Saturasi Artileri (Artillery Saturation Rocket System) ini diklaim sebagai buatan Avibras yang paling canggih, sementara yang akan dikirim ke Indonesia nantinya adalah jenis Astros II.

Dengan angka pembelian yang demikian besar, belanja alutsista ini akan meliputi pula pembelian baterai Astros: mesin peluncur roket, kendaraan komunikasi lapis baja, kendaraan penembak dan kendaraan kontrol, kendaraan dilengkapi radar, dan stasiun cuaca bergerak.

Namun rincian alat tak diketahui karena dilindungi klausul kerahasiaan.Tipe amunisi juga tak disebutkan meski dengan sistem ini dikabarkan roket mampu mencapai sasaran antara 9 hingga 100 kilometer.

Peluncur roket versi Astro yang akan dipakai TNI ini akan dikirim dalam kondisi lengkap termasuk dengan peralatan elektroik yang nantinya bisa dipakai untuk melepas amunisi cerdas, seperti rudal, namun kini masih menunggu proses sertifikasi.

'Kompetisi sengit'

Menteri Pertahanan Brazil celso Amorim menyatakan transaksi ini mengharuskan Brazil "bekerja dengan mitra dan pemain internasional baru."

Sementara menurut Amorim, "Indonesia adalah pemain besar dunia internasional dan juga telah membeli pesawat Super Tucano dari Embraer (Brazilian Aeronautics Company)," tambahnya. 

Untuk TNI Angkatan Udara, pemerintah Indonesia berbelanja 16 pesawat serang ringan turboprop, pengawas elektronik serta pesawat pendukung pasukan darat. 

Untuk memenuhi kontraknya, Avibras akan membuka sebuah kantor di Jakarta segera. kantor ini akan menjadi perwakilan keduanya di kawasan Asia, setelah yang pertama dibuka di Kuala Lumpur,

Malaysia, dimana peluncur roket Astros telah menjadi bagian dari alutsista negara itu sejak 2010.
Transaksi dengan Indonesia ini, menurut Presiden Avibras Sami Hassuani, "dicapai di tengah kompetisi sengit."

Negosiasi sudah dimulai sejak 2008 dan "memaksa perusahaan untuk kukuh di tempatnya dan terus-menerus menawarkan bukti keunggulan tekniknya."

Hassuani yakin dokumen final sudah akan ditandatangani 90 hari setelah kesepakatan dicapai sementara seluruh pesanan akan dikirim dalam tiga tahun, tetapi dia juga yakin 

"hubungan dengan pelanggan akan terus berlanjut lebih dari 30 tahun." 

Kesepakatan pembelian ini diteken oleh Ediwan Prabowo, Direktur Badan Sarana Pertahanan Kementrian Pertahanan dan Sami Hassuani di Jakarta, 8 November lalu.

Dua hari sesudahnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginspeksi sebuah kendaraan peluncur roket Astros yang sudah dicat sesuai warna TNI yang mengangkut empat SS-80 roket.





Sumber : BBC

Korut Siap Luncurkan Rudal jarak Jauh Baru

TONGCHANG-(IDB) : Satelit-satelit AS menangkap tanda-tanda bahwa Korea Utara bersiap untuk meluncurkan satu rudal jarak jauh. Demikian kata laporan sebuah harian Jepang, Jumat (23/11/2012).

Korea Utara (Korut) memindahkan bagian-bagian rudal militernya di Pyongyang ke satu tempat peluncuran di Tongchang-ri di barat laut negara itu awal November. Demikian kata harian Asahi Shimbun.

Pemerintah AS telah menginformasikan negara-negara sekutunya Jepang dan Korsel tentang tindakan itu, kata harian itu, dan menambahkan tiga negara itu telah meningkatkan kewaspadaan.

Perkembangan-perkembangan itu terjadi setelah Korut meluncurkan sebuah roket yang gagal April lalu dalam apa yang disebut negara komunis itu sebagai sebuah usaha untuk menempatkan satu satelit di orbit.

Menurut harian itu, gambar-gambar yang dibuat satelit-satelit AS yang dikirim baru-baru ini sama dengan yang dikirim dalam peluncuran April itu. Pyongyang secara teknis siap meluncurkan satu rudal akhir November, tetapi sebuah peluncuran segera tidak mungkin menjelang pemilihan presiden Korsel bulan depan. Korut tidak mengumumkan rencana-rencana untuk meluncurkan satu roket.

Belum ada konfirmasi Pemerintah Jepang mengenai laporan surat kabar itu. Di Seoul, seorang juru bicara kementerian pertahanan Korsel mengatakan, pihaknya tidak dapat memberikan komentar mengenai masalah intelijen. Sementara seorang juru bicara kantor presiden mengatakan, ia tidak memiliki informasi mengenai hal itu.





Sumber : Kompas

Rusia Buat Rudal Balistik 100 Ton Untuk Hadapi Pertahanan Rudal NATO

Rabu, 21 November 2012
MOSCOW-(IDB) : Militer Rusia mengumumkan pembuatan rudal balistik antarbenua canggih dengan bobot 100 ton. Program itu diluncurkan untuk melawan sistem pertahanan rudal NATO di Eropa Timur.
 
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa kebijakan itu diambil untuk melawan penempatan perisai rudal NATO dan Amerika Serikat di garis perbatasan barat Rusia. Kantor berita RIA Novosti, Rabu (21/11) melaporkan.
 
Panglima Satuan Rudal Strategis Militer Rusia, Jenderal Sergei Karakaev mengatakan program produksi rudal-rudal balistik antarbenua dengan bobot 100 ton ada dalam agenda kerja Moskow.
 
Produksi rudal-rudal super berat itu sejalan dengan program Rusia untuk melengkapi militer dengan peralatan perang modern termasuk, sistem pertahanan rudal. Rudal itu diyakini cukup untuk menghancurkan fasilitas pertahanan rudal AS dan NATO di beberapa wilayah di Eropa. Rudal ini akan menggantikan rudal Voyevoda R-36M2 Satan ICBM.
 
Menurut keterangan Karakaev, selain produksi rudal-rudal berat pada tahun ini, Rusia juga akan memodernisasi unit-unit militernya.
 
Penempatan sisem perisai rudal NATO di Eropa Timur ditentang keras oleh Rusia dan negara itu berjanji akan menempatkan sistem sejenis di dekat negara-negara Eropa. 





Sumber : Irib

All About Javelin Missile

Selasa, 20 November 2012
ARC-(IDB) : FGM-148 Javelin merupakan rudal antitank berpemandu sekali pakai pertama yang diterima oleh 75th Ranger Regiment, US Special Forces, dan kesatuan khusus Tier 1 didalam USSOCOM. Dengan sifatnya yang unik, Javelin merupakan penambahan dan bukannya penggantian terhadap roket antitank seperti RAWS.

Rudal yang dikembangkan dalam proyek AAWS-M (Andvanced Anti-Tank Weapon System-Medium) pada tahun 1986 ini mengantarkan militer AS kedalam generasi ketiga rudal antitank yang memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan pendahulunya seperti TOW maupun M47 Dragon. Satu fitur yang bermanfaat adalah fitur soft launch, dimana rudal akan meluncur keluar tabung hanya dengan propelan pendorong, dan baru menyalakan motor roketnya pada jarak 1 meter dari titik luncur, sehingga Javelin bisa ditembakkan dengan aman dari dalam bangunan.

Didesain dengan hululedak tandem HEAT, Javelin didesain untuk mampu mengalahkan MBT, bahkan yang dilengkapi dengan lapisan ERA generasi pertama sekalipun. Javelin memiliki kemampuan untuk melakukan serangan top attack, dimana rudal akan menanjak terlebih dahulu sampai ke ketinggian 160 meter, terbang mendatar, lalu menukik tepat keatas sasaran. 

Profil terbang misil ini dikendalikan secara autopilot dimana misil menyesuaikan jarak, arah, kecepatan dan simpangan angin berkat keempat sirip yang bisa diatur sudut-sudut kemiringannya. Serangan top attack memiliki probabilita tinggi untuk melumpuhkan MBT karena bagian atas MBT biasanya memiliki proteksi yang lebih tipis dibandingkan dengan bagian frontal atau samping. Apabila diinginkan, Javelin juga bisa diluncurkan dalam moda direct attack, dimana rudal akan menanjak sedikit lalu meluncur langsung ke sasarannya, cocok untuk menghajar fortifikasi atau ranpur yang berada pada jarak dekat.
 

 
Kemampuan Javelin untuk meluncur secara pintar ini adalah berkat sistem pemandu pintar yang tersimpan pada modul CLU (Command Launch Unit) yang bisa dilepaskan dari tabung peluncurnya. CLU yang merupakan passive infra red sight memiliki tiga macam magnifikasi yaitu day field of view (4x), Wide Field of Fiew (thermal, 4x), Narrow Field of View (9x), dan akhirnya Seeker Field of View (9x). 

Saat memasuki mode SFV, secara otomatis CLU mengirimkan input data jarak pada misil ke Launch Tube Assembly yang menjadi rumah bagi misil sehingga sasaran sudah mulai bisa dikunci, rudal ditembakkan dan penembak segera beralih begitu rudal meluncur keluar karena Javelin menganut sistem fire and forget. 

Satu hal yang menjadi keunggulan Javelin adalah CLU yang memiliki fitur setingan kontras dan kecerlangan sehingga nyaman digunakan, masih ditambah lagi dengan unit pendingin yang mendinginkan sensor sehingga pengenalan termal pada objek sasaran dapat dilakukan CLU secara lebih baik dibandingkan dengan optik NOD monocular yang menjadi standar pasukan AS. 

CLU pun hanya ditenagai dengan satu baterai litium BA-5590U yang juga sekali pakai sehingga terhindar dari problem baterai drop. Banyak personil yang melepas CLU dan menggunakannya sebagai teropong observasi, sehingga boleh dibilang CLU saat ini adalah teropong malam infantri terbaik dalam AD AS.

75th Ranger sebagai kesatuan pertama dalam AD AS menerima Javelin mulai 1996 dan mengalokasikannya ke 3rd Battalion/75th Ranger Regiment. 

Rudal ini terbukti mampu memberikan daya tembak berlipat ganda yang memberikan kemenangan menentukan bagi pasukan yang kekuatannya lebih kecil. 

Dalam salah satu kontak tembak dalam operasi Iraqi Freedom, Satu tim Ranger yang melaksanakan misi patrol pengintaian dengan Humvee di sebelah barat Irak melihat dua buah tank, kemungkinan T-55, yang bersembunyi dalam posisi dug-up (dilindungi bunker pasir sehingga hanya kubah yang nampak). Posisi Ranger lebih unggul karena mereka ada diatas bukit, dan pasukan Irak belum mengetahui keberadaan mereka.

Tim tersebut, yang beranggotakan Sgt. Jason Witmer, Cpl. Jeremy Mumma, Spc. Matthew Pickell, dan Spc. Michael Kithcart memutuskan bahwa mereka mengambil kesempatan dengan mencoba menghancurkan tank tersebut dengan Javelin yang mereka bawa. Dari jarak 1.800 meter, Cpl. Mumma yang menjadi penembak mengunci salah satu tank dengan Javelinnya, meluncurkan rudal, dan segera berganti ke tabung kedua bahkan sebelum rudal menghantam sasarannya. Tank kedua juga dikunci, dan tidak punya kesempatan bereaksi dan meledak tak lama setelah tank pertama dihancurkan.


Pada tahun 2003, dalam pertempuran Debecka Pass ODA (Operational Detachment Alpha/ A-Team) 391 dan 392 bertahan dari serangan Divisi ke-34 Irak yang dilengkapi dengan T-55 dan ranpur MT-LB dengan mengandalkan Javelin. Dengan menembakkan selusin Javelin, ODA 391 dan 392 mampu bertahan dan bahkan menghancurkan sejumlah tank dan ranpur dengan hit ratio diatas 80%. 

Dengan keputusan TNI untuk mempertimbangkan pembelian FGM-148 Javelin yang kita harapkan akan terwujud, maka TNI-AD akan menjadi salah satu negara yang mengoperasikan rudal berpemandu terbaik yang ada saat ini, dipadukan dengan sistem roket pintar NLAW yang dibuat oleh Thales Defense.

FGM-148 Javelin
 
Pabrikan        : Texas Instrument/ Raytheon/ Lockheed Martin
Desain           : Juni 1989
Bobot             : 22,3 kg (misil 11,8kg)
Panjang          : 1,2m
Jarak efektif    : 75-500m
Hululedak        : HEAT (High Explosive Anti Tank)






Sumber : ARC

Good News : 180 Javelin ATGM Untuk Indonesia

Senin, 19 November 2012
ARC-(IDB) : Pemerintah Amerika Serikat telah mengeluarkan notifikasi izin untuk menjual sebanyak 180 buah rudal anti tank Javelin untuk Indonesia. 

 

Nilai kontrak penjualan diperkirakan sekitar 60 juta dollar, meliputi 25 Command Launch unit, Missile Simulation Rounds, Battery, dan lain sebagainya. 





Sumber : ARC

Pertarungan Iron Dome VS Rudal Al Qassam

Brigade Al Qassam Tembakkan Roket ke Israel

TEL AVIV-(IDB) : Sedikitnya 737  roket telah ditembakkan oleh Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas dari Gaza ke Israel. 

Menurut Juru bicara militer Israel, 492 roket berhasil mendarat namun 245 lainnya dapat disergap oleh sistem pertahanan Israel yang baru, Iron Dome.

Hal ini menunjukkan Iron Dome hanya sukses secara parsial, namun Hamas justru  melangkah lebih jauh dengan kemampuan barunya menembakkan roket hingga ke Tel Aviv.  

Roket Hamas ini semakin menunjukkan kelemahan Israel yang bisa saja terus dimanfaatkan oleh Hamas.

Serangan Roket Hamas di Tel Aviv
Serangan Roket Hamas di Tel Aviv
Israel menuding kemajuan kualitas roket Israel tidak terlepas dari transfer teknologi fajr-5 dari Iran.  

Menurut Israel, komponen-komponen roket itu dikirim ke Sudan lalu ke Mesir, untuk diselundupkan lewat terowongan bawah tanah ke Gaza. Namun militer Iran menolak tudingan transfer teknologi itu. 

Menurut Iran, Hamas mengembangkan teknologi roket sendiri dan Israel diminta tidak mencari kambing hitam.

Sejumlah pengamat militer juga menilai Hamas membuat kejutan dalam perang ini karena mampu meluncurkan roket dari bawah tanah yang belum pernah dilakukan sebelumnya.  Hamas juga telah berkembang dengan mamiliki rudal-anti udara. 

Satu pesawat mata-mata dan, dua F-16, satu helikopter apache dan satu tank diklaim Brigade  Al-Qassam, berhasil ditembak jatuh.  Mereka pun mempublikasikan dua kartu tanda pengenal tentara Israel yang berhasil ditangkap.

Brigade Al Qassam Tangkap 2 Pilot Israel
Roket -roket Hamas yang menghantam berbagai tempat di Tel Aviv, membuat banyak penduduk Israel terguncang. 

“Kini tidak ada lagi wilayah Israel yang aman dari serangan roket Hamas, ujar seorang penduduk perempuan di Tel Aviv.

Beberapa roket Hamas menghantam rumah, perkarangan rumah dan mobil di Tel Aviv, yang menyebabkan beberapa penduduk terluka.  

Kini warga Tel Aviv tidak bisa lagi tidur dengan nyaman, karena setiap beberapa jam ada raungan sirene keras di Tel Aviv, pertanda datangnya serangan roket dan penduduk diminta berlindung. 

Akibatnya selama tiga hari terakhir penduduk Tel Aviv kurang tidur karena selalu diganggu oleh raungan Sirene.

Gempuran Israel di Gaza
Kondisi di Gaza sebenarnya lebih parah. 

Tidak ada tempat yang aman di Gaza dan tidak ada pula peringatan datangnya serangan Israel melalui raungan sirene.  

Jumlah serangan Israel ke Gaza jauh lebih dasyat. 

Penduduk Gaza seakan mengundi nasib, apakah dia atau keluarganya kena bom Israel hari ini atau besok hari. Tidak ada yang pasti.

Menurut  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rumah sakit juga mulai kehabisan obat obatan dan stok darah, akibat banyaknya korban yang terkena serangan militer Israel. 

Persediaan 192 jenis obat (40 persen dari obat-obat darurat) dan 586 jenis perlengkapan medis sekali pakai (65 persen dari perlengkapan medis darurat) sudah habis. 

Operasi-operasi yang tidak darurat ditunda karena minimnya obat bius.  

Sedikitnya 90 penduduk Gaza telah tewas dan 700 lainnya terluka.  Sementara di pihak Israel, tiga tewas dan beberapa penduduk terluka.

Serangan Israel di Gaza
Di tengah serangan Israel yang membabi-buta, para pejuang Palestina menantang militer Israel untuk melaksanakan ancamannya melakukan penyerbuan darat. Para pejuang Palestina di Gaza menyatakan telah siap menghadapi serangan darat.

Pernyataan tantangan untuk perang darat dari pejuang Palestina kepada militer Israel, dilontarkan juru bicara sayap militer Hamas Abu Ubaidah setelah PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan sudah menyiapkan pasukannya di perbatasan.

Sementara, hasil poling terakhir koran  Israel Haaretz  memperlihatkan 84 persen Yahudi yang tinggal di wilayah pendudukan mendukung serangan ke Gaza. Hasil jajak pendapat tersebut menunjukkan hanya 12 persen responden menentang serangan ke Gaza.

Brigade Al Qassam
Kini militer Israel tidak memiliki alasan politis lagi untuk tidak melakukan serangan darat ke Gaza, seperti yang mereka gembor-gemborkan, setelah mayoritas warga Israel menyetujuinya. Masalahnya adalah di militer Israel itu sendiri, apakah mereka siap menerima resikonya atau membatalkan serangan tersebut.

Dari perspektif masyarakat sipil, rencana peperangan darat tersebut memang mengerikan dan tentu akan menelan banyak korban. Namun perspektif itu berbeda dengan cara pandang sayap militer Hamas, Brigade Al Qassam.  ”Peperangan itu nanti ibarat seorang pemuda yang siap menjemput calon pengantinnya. Kami akan sambut peperangan itu dengan suka cita”, teriak anggota Brigade Al Qassam.

Akankah nyali tentara Israel sebesar itu ?. Kita lihat saja nanti.






Sumber : JKGR

Beli Astros II, Indonesia Bukan Yang Pertama Di Asia Tenggara

Jumat, 16 November 2012
BRAZIL-(IDB) : Sejumlah koran hari ini memuat berita hangat kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin ke fasilitas Avibras di Brasil, terkait kesempatan pembelian 36 unit sista Astros II senilai 405 juta dollar. Sistem senjata roket yang mampu menjangkau jarak hingga 96 ini menurut rencana akan jadi dua batalyon kekuatan yang bernaung di bawah TNI AD. Berita ini tentu menggembirakan, tapi di Asia ternyata bukan Indonesia yang pertama menggunakannya. Negara pertama yang telah lebih dulu mengoperasikannya adalah Malaysia.

Merujuk Commando, Malaysia secara provokatif telah lebih dulu membeli Astros II dan menempatkannya di posisi yang bisa menjangkau Singapura. Kekuatan setara tiga baterai yang bernaung di bawah Army Field Command HQ ini operasional penuh sejak Januari 2006. Sista ini, seperti dikatakan petinggi militer Malaysia, akan dipergunakan sebagai respon pertama yang akan diturunkan seandainya Malaysia mendapatkan serangan dari musuh.

Tahun depan direncanakan roket ini sudah memperkuat sistem pertahanan Indonesia. Pembelian roket Astros dari Brasil, melengkapi kerja sama pertahanan Indonesia dengan Brasil setelh sebelumnya TNI AU memperoleh 16 unit pesawat EMB-314 Super Tucano. Total kontrak dengan Brasil untuk kedua sista ini mencapai 700 juta dolar AS atas sekitar Rp 6,7 triliun. Sejauh ini, selain Malaysia dan Indonesia, negara yang telah dicatat menggunakan sista Astros adalah Bahrain, Irak, Arab Saudi dan Qatar.

Roket sebagai alternatif alutsista artileri mengemuka sejak PD II. Di tangan Tentara Merah, kekuatan roket Katyusha mampu menyapu area (area saturation) dengan penghancuran lebih luas dan lebih cepat dibanding meriam howitzer, biarpun kalah dalam akurasi. Berpindah ke medan pertempuran modern, doktrin mengutub menjadi dua, antara AS yang mengandalkan Muntiple-Launch Rocket System (MLRS) canggih namun mahal, atau ikut doktrin Timur yang mengandalkan BM-21 Grad dan turunannya yang murah namun ketinggalan zaman.

Menyadari ada celah kosong di antara kedua seteru, pabrikan Avibras coba menawarkan sistem roket artileri yang terjangkau seperti Grad, namun akurat dan memiliki proteksi kru yang memadai seperti MLRS. Proyek yang dimulai dengan modal pribadi perusahaan dengan kode Astros II T-O Brucutu pada 1981 memilih sasis truk sebagai kendaraan pengusung sistem roket. Selain karena pertimbangan biaya, kemampuan lintas medan berat dan kemampuan diangkut pesawat sekelas C-130 Hercules menjadi pertimbangan utama.

Astros II unggul dalam hal roket yang dibawanya. Avibras sudah mendesain sistem roket Astros secara modular, sehingga mudah dikonfigurasi di lapangan sesuai kebutuhan. Roket-roket yang ada dimuat dalam kontainer roket yang pada gilirannya tinggal dimuat ke dalam kotak peluncur di atas sasis Astros II. Ada empat roket yang dipersiapkan Avibras, yang semua motor roketnya ditenagai oleh double-base propellant.

Kaliber terkecilnya 127mm SS-30, yang terpasang sebanyak 32 tabung per kotak peluncur. Roket berhulu-ledak HE (High Explosive) dengan panjang 3,9m dan berbobot 68 kg sebuahnya ini mampu menjangkau sasaran sejauh 30 km. Roket kedua, SS-40, memiliki kapasitas maksimal 16 roket dalam satu tabung peluncur. Selongsong roketnya memiliki empat sirip (fins) dengan panjang 4,2 m dan berbobot 152 kg sebuahnya. Jarak jangkaunya antara 15-35 km. Soal hulu ledak, SS-40 cukup fleksibel. Jika mau HE ada, bila memilih amunisi cluster/ bomblet (tandan) DP (Dual Purpose) antimaterial dan personel juga tersedia.

Khusus amunisi bomblet, dimensinya 39x13cm, dengan sumbu impak mekanis. Tiap bomblet dilengkapi pita-parasut yang berfungsi menahan dan menstabilkan arah jatuh. Kategori ketiga, SS-60 yang merupakan pengembangan dari SS-40. Punya sosok lebih besar sepanjang 5,6 m dan berbobot 595 kg, konsekuensinya SS-60 bisa menampung 65 bomblet. Jangkauannya antara 20-60 km dengan waktt tempuh 117 detik untuk mencapai jarak maksimal 60 km. Jadi di luar jangkauan artileri meriam 105-120 mm.

Roket terakhir, SS-80, lahir belakangan pada 1995, dengan sosok tak jauh beda dengan SS-60. Daya jangkaunya yang mencapai 90 km dimungkinkan berkat propelan baru. Selain itu, SS-80 bisa dimuati senjata kimia mematikan, walaupun belum pernah dipergunakan dalam pertempuran aktual.

Astros sudah battle proven. Perang Teluk II tahun 1991 menjadi saksi bagaimana Irak dan Arab Saudi saling mengadu Astros II yang mereka miliki, dengan Irak mempergunakan varian lokal dari SS-60 yang disebut Sajeel-60. Saking terkenalnya, AS sampai mempergunakan gambar Astros II yang dihajar F-15E Strike Eagle dalam pamflet propaganda yang meminta tentara Irak untuk menyerah tanpa perlawanan





Sumber : Angkasa

Analisis : Akankah Indonesia Akuisisi Rudal Jarak Menengah

Kamis, 15 November 2012
Rudal S-300 Anti-Udara Jarak Menengah
ANALISIS-(IDB) : Iran yang mati-matian mendapatkan rudal anti-udara jarak menengah S-300 Rusia, begitu sulit mendapatkannya. Mereka harus memutar otak dan menggunakan negara ketiga untuk memperoleh S-300 tersebut.  Sementara Indonesia justru sebaliknya.

Dalam Indo Defence 2012 di Jakarta, pihak Rusia menawarkan berbagai jenis rudal anti-udara jarak menengah termasuk S-300. “Apakah militer Indonesia membeli rudal S-300 ini ?, tanya saya ke petugas booth Rusia. “Saya harap begitu”, ujarnya sambil tersenyum.

Itu artinya dari sisi pemerintahan Rusia, tidak ada kendala atas penjualan S-300 untuk Indonesia. Di sisi lain, pihak Arhanud sudah teriak-teriak menginginkan rudal anti-udara jarak menengah untuk memodernisasi strategi pertahanan mereka, seiring berkembangnya kemampuan perang negara-negara kawasan, terutama China.

Rusia telah menawarkan S-300 dan Indonesia juga menyatakan butuh rudal tersebut. Akankah S-300 dibeli militer Indonesia ?.

Yunani gunakan S-300 sejak tahun 2000
Pihak TNI AD sudah berkali kali mengunjungi dan menjajaki kemampuan rudal jarak menengah, baik ke China dan Rusia.  Namun hingga kini belum ada kejelasan apakah rudal  itu akan dibeli atau tidak.

Secara finansial mungkin tidak ada kendala untuk membeli rudal jarak menengah itu. Bagaimana dengan aspek stabilitas kawasan ?.

Jika Indonesia membeli rudal anti-udara jarak menengah, pastinya akan mengubah geopolitik di kawasan Asia Tenggara.  Sudah pasti Malaysia akan bereaksi. Jika Malaysia bereaksi, pastinya Singapura juga tidak akan tinggal diam. Ujung-ujungnya yang tercipta adalah perlombaan senjata. Logika berpikir seperti ini yang tampaknya sedang tertanam di benak Indonesia.

Akan tetapi paradigma militer seperti itu bisa kita ubah. Selama ini Indonesia lebih menahan diri untuk persenjataan dan hal ini akibat terperosoknya ekonomi Indonesia di beberapa dekade yang lalu. Kini ekonomi Indonesia mulai membaik. Apakah Indonesia akan terus berjalan di belakang negara-negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia. Indonesia cenderung terus menahan diri untuk tidak menciptakan perlombaan senjata.

Umumnya negara negara besar  menjadi panglima militer di kawasan mereka dan negara yang lebih kecil mengikuti dari belakang. Misalnya: AS, Rusia, China, India, Jerman, Iran, Mesir.  Kecuali Israel yang kasusnya memang unik.

Rusia jaga perbatasan negara dengan S-400
Kasus Indonesia justru terbalik. Indonesia justru berada di belakang bayang bayang militer: Singapura, Malaysia dan Australia dan bahkan Vietnam. 

Negara negara itu merasa lebih kuat secara militer dan Indonesia terkesan menikmatinya.

Sudah waktunya psikologi militer itu dibalik dan dikembalikan seperti sedia kala di era tahun 1960-an. 

Militer Indonesialah yang menjadi pemimpin di kawasan Asia Tenggara. Jika hal ini bisa tercapai, maka kewibawaan bangsa Indonesia bisa ditegakkan kembali agar roda kehidupan berputar lebih kencang.

Akankah hal itu terjadi ?. Mungkin indikatornya bisa kita ukur, apakah Indonesia akan membeli rudal anti-udara jarak menengah atau tidak.  Jika masih berkutat diurusan rudal anti-udara jarak pendek,  tentu anda sudah tahu jawabannya.

Ayo Indonesia, keluarlah dari Comfort Zone.





Sumber : JKGR

Rudal Starstreak Indonesia

Rabu, 14 November 2012
Rudal Starstreak Monopod
JKGR-(IDB) : Salah satu alutsista yang menarik perhatian di Indo Defence 2012, adalah peluru kendali anti pesawat Starstreak buatan Inggris. 

Rudal ini dipamerkan di satu booth bersama dengan rudal anti tank NLAW yang juga dibeli Indonesia.  Selama ini diperkirakan NLAW dibeli dari Swedia. Namun rudal Nlaw  merupakan joint production antara Swedia dan Inggris.

Menurut Officer Inggris yang menjaga stand itu, Indonesia membeli sekitar 100 rudal Starstreak lengkap dengan peralatan pendukungnya.  Itu artinya rudal starstreak yang dibeli Indonesia lumayan cukup untuk melindungi instansi-instansi penting atau obyek vital negara.

Di Inggris sendiri, rudal Starstreak dipasang  juga  di atas tank Stormer yang juga buatan Inggris. 

Namun menurut officer itu Indonesia tidak membeli rudal starstreak yang dipasang di tank stormer,  meskipun Indonesia juga memiliki Stormer.  Menurutnya, rudal Starstreak Indonesia sebagian menggunakan modul  monopod  sebagian lagi dipasang di kendaraan taktis.

Saya menebak, kendaraan taktis pengangkut rudal starstreak adalah Sherpa lisensi Perancis atau Komodo.  Namun menurutnya, sebagian rudal Starstreak Indonesia dipasang di kendaraan taktis buatan Spanyol.

Apakah Indonesia memiliki rantis buatan Spanyol ?. Atau membeli  baru ?.  Saya tidak tahu.

Yang jelas Spanyol memang memiliki rantis yang cukup terkenal yakni: Uro Vamtac dan telah mengusung Rudal Starstreak  seperti gambar di bawah ini:

Rantis Uro Vamtac membawa rudal Starstreak
Selain mengangkut rudal starstreak, Spanyol juga memasang rudal Mistral, sistem senjata lainnya bahkan hingga radar di Rantis Uro Vamtac. 

Seharusnya penggunaan rantis Uro Vamtac yang dilakukan militer Spanyol bisa juga dilakukan oleh militer Indonesia dengan Rantis Sherpa atau Komodo-nya.

Rantis Uro Vamtac dengan Rudal Mistral
Uro Vamtac S3
Kembali ke rantis Uro Vamtac Spanyol. Indonesia memang memiliki kerjasama militer dengan Spanyol, antara lain pembuatan pesawat angkut C-295. Apakah Pembelian rantis Uro Vamtac ini bersamaan dengan kontrak pembelian 9 C-295 ?. Tidak tahu.

Yang jelas menurut officer Inggris itu, Indonesia membeli sekitar 100 rudal starstreak beserta peralatan pendukungnya dan sebagian bersifat mobile.

Dengan demikian, selain rudal Starstreak, Indonesia juga memiliki rudal Mistral yang dipasang di kendaraan Taktis Komodo.

Rantis Komodo dengan Rudal Mistral
Tampaknya rudal starstreak lebih diperuntukkan untuk pertahanan titik menggantikan rudal Rapier TNI-AD,  sementara rudal mistral akan embeded dengan pergerakan pasukan.

Rudal Starstreak antara lain telah ditempatkan di Yonarhanudse-10/1/F sebanyak satu baterai, Kodam Jaya. 





Sumber : JKGR

Iran akan Pamerkan Dua Sistem Rudal Barunya

Selasa, 13 November 2012
TEHRAN-(IDB) : Komandan Pangkalan Pertahanan Udara Khatam al-Ambiya Brigadir Jenderal Farzad Esmaili mengatakan, Republik Islam Iran akan memperkenalkan dua sistem rudal produksi dalam negeri selama manuver sepekan di timur negara itu.

"Sistem rudal Qader dan Ya Zahra III akan diluncurkan selama latihan…," kata Esmaili pada Selasa (13/11) di sela-sela manuver akbar dengan sandi Modafean-e Aseman-e Velayat 4 yang dimulai pada Senin.
 
Ia menambahkan, sistem rudal Qader dapat dipindahkan, diinstal dan menembakkan rudal dalam waktu kurang dari 30 menit.

Menurut Esmaili, sistem Ya Zahra III dirancang dan diproduksi dalam waktu yang singkat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sistem ini dapat dipindahkan dan diinstal dengan cepat dalam berbagai kondisi.

 
Dalam beberapa bulan terakhir, Iran telah menggelar barbagai latihan pertahanan di tengah ancaman rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat.

Tehran berulang kali menegaskan bahwa kekuatan militernya tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara lain dan doktrin pertahanan didasarkan pada pencegahan. 

Iran Sukses Ujicoba Hawk

Selain itu Republik Islam Iran juga sukses mengujicoba rudal Hawk yang telah diupgrade dihari kedua manuver militer yang melibatkan pasukan angkatan darat, udara dan Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC).

Rudal tersebut ditembakkan dari landasan peluncuran yang dipasang di kendaraan militer dan sukses menarget dan menghancurkan sebuah pesawat tanpa awak sebagai sasaran, pada Selasa (13/11).


Latihan militer gabungan terbesar selama tujuh hari dengan sandi Modafean-e Aseman-e Velayat 4 dimulai pada Senin di Provinsi Khorasan Selatan yang terletak di sebelah timur Iran.


Hari kedua latihan juga mensyaratkan evaluasi kinerja lainnya seperti sistem rudal ketinggian rendah dan jarak menengah serta penilaian kemampuan artileri termasuk pengujian meriam Oerlikon 35 mm yang dilengkapi dengan laser pengintai.


Dalam beberapa bulan terakhir, Iran telah menggelar barbagai latihan pertahanan di tengah ancaman rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat.


Tehran berulang kali menegaskan bahwa kekuatan militernya tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara lain dan doktrin pertahanan didasarkan pada pencegahan.





Sumber : Irib

Produsen ATGM Bersaing Ketat Di Ajang Indodefence 2012

Jumat, 09 November 2012
JAKARTA-(IDB) : Tak bisa dipungkiri, ajang pameran Indo Defense 2012 yang diselenggarakan di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta 7-10 Nopember 2012. Salah satu persaingan yang ada pameran senjata itu adalah perang mendapatkan kontrak pengadaan alat utama system senjata jenis Anti Tank Guided Missile (ATGM).

Di lokasi pameran, ada beberapa perusahaan perwakilan negara asing membawa produk andalannya, seperti SAAB Swedia yang membawa RBS-70, Rosonboron Exports Rusia yang membawa beberapa varian ATGMnya seperti Kornet EM, MBDA yang membawa Millan dan Eryx, Ukraina, dan Belarusia yang membawa ATGM SKIF D dan lainnya.

Dari banyak perusahaan yang menawarkan produknya, itoday, Kamis (8/11) sempat berbicang-bincang dengan dua negara produsen ATGM asal Belarusia dan Rusia mengenai ATGM yang dibawanya.

Kelebihan SKIF D adalah memiliki dua launcher yang dapat menembakan dua rudal secara bergiliran dalam jenjang waktu yang sangat singkat," jelas Deputy Chief of High Power Radiation Sources Department Belarusia, Polonevitch Alexander, kepada itoday.

Alexander juga menjelaskan kelebihan lain dari SKIF D yang dapat ditembakan secara otomatis dari jarak jauh, dengan menggunakan sebuah perangkat berbentuk seperti laptop yang dilengkapi joystick untuk menggerakan tube launcher dan layar untuk melihat hasil pencitraan kamera yang terdapat di launcher.

"Dengan kendali otomatis jarak jauh ini, prajurit tidak akan mendapatkan serangan balik akibat harus memanggul ATGM tersebut yang memancarkan jejak laser untuk penunjuk rudal yang ditembakan, ujarnya.

Di sisi lain, Rosonboron Exports dari Rusia mengunggulkan system anti tanknya yang bernama Kornet EM, dimana salah satu kelebihannya adalah jarak tembaknya yang mencapai 10.000 meter atau setara 10 km, dengan ketepatan sasaran mencapai 97-98 persen, tergantung dari besaran targetnya sendiri.

Kornet EM sendiri terkenal dengan kemampuannya yang sudah battle proven di pertempuran, dimana Mujahidin Hisbullah pernah menggunakan ATGM ini untuk menghancurkan Main Battle Tank (MBT) milik Israel, Merkava. Padahal, Merkava adalah salah satu MBT terbaik di dunia.





Sumber : Itoday

Rusia Tawarkan Rudal Jarak Pendek Dan Menengah Ke Indonesia

Selasa, 06 November 2012
JAKARTA-(IDB) : Perusahaan Rosoboronexport Rusia akan menampilkan 200 sampel senjata dan peralatan militer dalam Pameran Internasional Senjata dan Peralatan Militer Indo Defense 2012 yang akan digelar tanggal 7 sampai 10 November di Indonesia.

"Dalam pameran ini perusahaan Rusia akan membahas isu-isu mengenai militer-teknis kerjasama dengan baik dengan Indonesia dan semua mitra di Asia-Pasifik", pernyataan dari Rosoboronexport, eksportir terbesar senjata Rusia.

Selain peralatan militer, perusahaan Rusia akan mengusulkan kepada mitranya di Asia-Pasifik untuk melakukan produksi bersama dan mengembangkan model senjata dan peralatan teknis militer yang dirakit di bawah lisensi.
"Ini berarti mentransfer sejumlah teknologi yang saat ini sangat penting bagi Indonesia yang bertujuan untuk mengembangkan industri pertahanan nya," wakil direktur Rosoboronexport, Victor Komardin, yang memimpin delegasi Rusia di pameran.

Dia menambahkan bahwa perusahaan mengharapkan antipesawat sistem pertahanan seperti "Buk-M2E", "Pantsir-S1" dan "Igla-S" akan menarik masyarakat di acara itu.

Rosoboronexport datang ke Indonesia juga akan menawarkan pertahanan udara yang kompleks yaitu sistem rudal jarak menegah dan sistim rudal jarak pendek yaitu "Buk-M2E" dan "Pantsir-S1".




Sumber : Rian

Rudal Jelajah India Untuk Pertahanan Wilayah

Rabu, 17 Oktober 2012
JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan India A.K. Antony menegaskan, keberadaan misil jelajah BrahMos yang memiliki kemampuan supersonik, tidak akan mengancam negara tetangganya. Misil itu hanya digunakan untuk pertahanan India.

Dalam kunjungannya ke Kementerian Pertahanan Indonesia, Antony mendapat pertanyaan mengenai potensi ancaman ke Pakistan dan China, lewat eksistensi misil jelajah BrahMos yang sudah dilengkapi dengan sistem navigasi satelit Rusia. Antony pun menjawab, misil itu tidak akan mengancam negara tetangganya.

"Tidak, kami membangun BrahMos untuk mempertahankan wilayah kami. Kami juga membangun hubungan yang baik dengan Pakistan dan China," ujar Antony, di Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Selasa (16/10/2012).

Sejauh ini, integrasi dari sistem navigasi satelit KH-555 akan mengubah misil jelajah BrahMos menjadi "roket super" yang sanggup menghantam target sejauh 300 hingga 500 kilometer dari permukaan laut, darat dan udara. Satu hal yang paling penting adalah, misil itu sanggup membawa hulu ledak nuklir.

Sebagai negara tetangga, Pakistan belum memiliki misil secanggih BrahMos. Dan kepemilikan India terhadap BrahMos jelas menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pertahanan India.

Kombinasi BrahMos dan Sukhoi Su-30 akan memperkuat pertahanan udara India, serta menyetarakan India dengan Rusia yang memiliki pesawat bomber Tu-95MS dan Tu-160. Hal itu diutarakan oleh seorang pengamat penerbangan Vladimir Sherbakov.


India Tawarkan Senjata Kaliber Besar Dan Ranpur

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, Selasa (16/10) setelah menerima kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan India, Shri AK Antony beserta rombongan di gedung Kemenhan Jakarta, menyampaikan keterangan persnya kepada wartawan, tentang misi dan tujuan dari diadakannya kunjungan kedatangan Menhankam India ke Jakarta, dalam rangka melakukan Meeting Bilateral Indonesia - India dengan Menhankam, Purnomo Yusgiantoro beserta jajaran pejabat Kemenhankam TNI kedua negara.

Menhan menjelaskan, dari hasil pertemuannya, "kita baru saja melaksanakan bilateral meeting dengan Menteri pertahanan India, Shri AK Antony. Kita bertukar pikiran mengenai masalah Internasional di sekitar kita, nanti akan di jelaskan lagi oleh Sekjen, Marsekal Madya Earis Harianto. Dalam meeting tahap awal antara Sekjen kemenhan, pak Earis Harianto dan Secretary Maisteri dari India tadi. Sudah banyak yang kita bahas, diantaranya: kerjasama Maritim, Security dan keamanan lainnya," ujar Purnomo.

Sekjen Kemenhan, Marsekal Madya Earis Harianto mengatakan, "Dalam meeting bilateral tadi, kita telah membahas kerjasama Sharing Information, Schering Intelijen, Officer Iterpres, tawaran dari dari pihak India tentang Amunisi Kaliber Besar dan mesin-mesin truk, serta mesin untuk Kendaran tempur, juga telah kita diskusikan," jelasnya.

Sedangkan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigjen Hartind Asrin mengatakan, "Indonesia juga tidak ketinggalan dalam menawarkan produk industri pertahanan dalam negeri kepada India, diantaranya yang kita ditawarkan yaitu: pesawat CN 235, kapal Landing Platform Dock 125m, panser Anoa, dan senjata-senjata lainnya. Dalam hal ini, mereka juga meresponnya dengan positif, mereka juga tahu bahwa industri pertahanan Indonesia juga bagus," pungkas Hartind Asrin.




Sumber : Okezone

India Belum Tawarkan Misilnya Untuk Indonesia

Selasa, 16 Oktober 2012
JAKARTA-(IDB) : Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjend TNI Hartin Asrind mengatakan, sampai saat ini India belum menawarkan misilnya ke Indonesia. Namun tak menutup kemungkinan Indonesia akan membeli misil dari Negeri Bollywood.

Dalam pertemuan bilateral Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro dan Menhan India AK Antony, India merespons baik tawaran kerja sama militer dengan Indonesia. Indonesia pun menawarkan produk-produk dari PT Dirgantara Indonesia. Namun pembahasan mengenai misil belum bergulir.

"India punya misil tapi mereka belum menawarkan ke kita. Kalau memang bagus ya kita beli," ujar Hartin di Kementerian Pertahanan Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2012).

Hartin turut menambahkan, India merupakan negara dengan kekuatan angkatan udara yang baik. Negeri Bollywood itu juga menjadi konsumen utama bagi jet Sukhoi buatan Rusia.

India dan Indonesia juga akan mengembangkan kerja samanya di bidang pertahanan dan produksi industri militer, mengingat baiknya perkembangan industri pertahanan negara tersebut.




Sumber : Okezone
 

Gossip Selebrities Copyright © 2011-2012 Supported by: cara membuat blog | Powered by Blogger