Tampilkan postingan dengan label Senjata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senjata. Tampilkan semua postingan

Rusia Bentuk Konsorsium Pembuatan Senjata Baru

Rabu, 05 Desember 2012
MOSCOW-(IDB) : Pemerintah Rusia akan menggabungkan dua produsen senjata api di negaranya menjadi satu konsorsium super. Ini merupakan strategi Moskow dalam memodernisasi industri alat utama sistem persenjataan sekaligus memerangi produksi senjata ilegal khas Rusia di negara-negara lain.

Penggabungan itu melibatkan dua pembuat senjata api, yang dua-duanya berbasis di Ural, yaitu Izhmash dan Izhtech. Fusi dua produsen itu akan berada di bawah suatu konsorsium yang memakai nama desainer senjata api legendaris Rusia, Mikhail Kalashnikov.

"Saya akan mendukung terbentuknya suatu korporasi gabungan yang akan mampu berkonsentrasi dalam membuat senjata api modern," kata Presiden Vladimir Putin seperti yang dimuat media Rusia awal pekan ini.

Deputi Perdana Menteri Dmitry Rogozin, yang bertanggungjawab dalam industri pertahanan nasional, yakin bahwa pembentukan konsorsium ini akan meredam produksi senjata api tak berlisensi khas Rusia yang berlangsung marak di negara-negara Eropa Timur, termasuk yang bergabung di Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).   

"Saya yakin bahwa, di bawah bendera baru, kami tidak hanya sekadar membangkitkan produksi di Izhevsk dengan membuat senjata api modern yang mengungguli buatan asing dari segi daya tahan dan daya bunuh, namun juga akan mengatasi produksi tak berlisensi dan bajakan Kalashnikov di 'anggota-anggota baru' NATO," kata Rogozin.

Kementerian Pertahanan Rusia tahun lalu sudah menghentikan pembelian AK-74, yang merupakan varian paling populer senapan serbu Kalashnikov dalam beberapa puluh tahun terakhir. Kini Rusia sejak November lalu sedang ujicoba senjata model baru, yaitu AK-12, yang didesain perusahan Izhmash.   






Sumber : Vivanews

Persaingan Senjata di Asia Tenggara

Sabtu, 24 November 2012
Kapal Selam Mutan Indonesia
ANALISA-(IDB) : Besaran pembelian senjata oleh negara-negara Asia Tenggara telah menjadi pembicaraan hangat bagi analis-analis pertahanan. Pengeluaran Pertahanan di seluruh wilayah Asia Tenggara meningkat 13,5 persen dari tahun lalu menjadi US$ 25,4 miliar dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi US$ 40 miliar pada tahun 2016, seperti yang digambarkan Stockholm International Peace Research Institute.

Lembaga independen tersebut mengatakan, Indonesia, Vietnam, Thailand dan Kamboja telah meningkatkan anggaran pertahanan sebesar 66 persen hingga 82 persen dari tahun 2002 sampai tahun lalu.

Indonesia telah membeli kapal selam dari Korea Selatan dan sistem radar pantai canggih dari China dan Amerika Serikat, Vietnam juga mengakuisisi kapal selam dan jet tempur dari Rusia dan juga telah mendapatkan rudal balistik dari Israel. Anggaran pertahanan Vietnam untuk tahun ini adalah US$ 3,1 miliar, naik 35 persen dari tahun lalu. Filipina pun tidak ketinggalan, negara kepulauan tersebut juga memiliki keinginan besar terhadap persenjataan dari Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Perancis dan Inggris untuk akuisisi pertahanannya.

Singapura, negara kecil ini telah menjadi negara terbesar kelima di dunia dalam urusan impor senjata. Singapura tampaknya ingin mempertahankan gelarnya sebagai pemboros alat pertahanan di kawasan Asia Tenggara, mengalokasikan US$ 9,7 miliar pada tahun ini untuk belanja pertahanan. Ini merupakan 24 persen dari anggaran nasionalnya. Negara ini membeli jet tempur dari Amerika Serikat dan kapal selam dari Swedia. Thailand berencana untuk membeli kapal selam dan pesawat tempur dari Swedia yang nantinya akan dilengkapi dengan rudal anti-kapal, sedangkan pengiriman senjata ke Malaysia melonjak delapan kali lipat selama dari tahun  2004 hingga 2009.

Selama beberapa dekade, sebagian besar negara Asia Tenggara seperti tertidur, sebagian besar hanya jenis senapan dan kendaraan tempur ringan yang mereka impor untuk menghadapi ancaman internal. Namun, negara-negara Asia Tenggara yang memiliki sengketa wilayah dengan China telah membangun kekuatan pertahanan mereka. Memang telah terjadi ketegangan atas klaim teritorial China di Laut Cina Selatan, sperti dengan Filipina.

Hingga tahun 2020, para analis pertahanan memperkirakan 56 kapal selam akan ditambahkan ke seluruh armada laut negara-negara Asia Tenggara dan 30 kapal selam akan juga memperkuat China. Beberapa kapal selam China akan mampu membawa 12 rudal balistik peluncuran laut yang nantinya bisa dilengkapi dengan hulu ledak ganda. seorang analis Asia Tenggara dari Akademi Angkatan Pertahanan Australia di Universitas NSW, Carl Thayer, mengatakan  penyebaran kapal selam nuklir, termasuk kapal selam rudal balistik, akan menjadikan dimensi geostrategis baru untuk keseimbangan regional.

Penyebaran kapal selam nuklir China akan terus menarik perhatian bagi Angkatan Laut AS. Aksi membeli/memproduksi senjata dalam jumlah besar akan memiliki dampak destabilisasi bagi keamanan regioal. Dalam sebuah makalah oleh seorang analis pertahanan, Profesor Thayer, mengatakan : "Asia tenggara sudah siap untuk bersaing dalam persenjataan karena ketidakpercayaan strategis dengan China."

Amerika pun turut campur dalam "menghadapi China" ini, AS akan memperkuat poros pasukan keamanan ke Asia tenggara dan Pasifik. Strategi ini dipandang sebagai penyeimbang kekeutan China, yang agresif menegaskan klaim teritorialnya di hampir seluruh Laut Cina Selatan. Bagian dari wilayah yang juga diklaim oleh Filipina, Brunei, Malaysia dan Vietnam.





Sumber : Vivanews

Pindad Produksi Dan Kembangkan Senjata Penembus Baja Dan Anti Karat Untuk TNI AL

Jumat, 09 November 2012
JAKARTA-(IDB) : PT Pindad Persero tak hanya memproduksi Senapan Serbu versi 1 dan 2 (SS1 dan SS2). Tapi juga membuat senjata Senapan Penembak Runduk (SPR) atau senjata khusus penembak jitu yang diproduksi sejak tahun 2007.

Staf Desain Produk PT Pindad, Windu Paramata menjelaskan, ada tiga versi SPR. Yakni SPR-1 (produksi 2007), SPR-2 dan SPR-3 (produksi 2010). Ketiga senapan itu sudah didesain menggunakan peluru yang bisa menembus lapis baja pada kendaraan tempur, seperti tank.

"SPR-1 menggunakan peluru kaliber 7,62 mm, peluru SPR-2 dan SPR-3 berkaliber 12,7 milimeter x 108," kata Windu saat berbincang dengan VIVAnews di Indo Defence 2012 Expo & Forum, Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat 9 November 2012.

Untuk SPR-1, kata Windu, dengan peluru kaliber 7,62 mm dapat menembak efektif sampai jarak 700-900 meter. Namun, pada jarak tembak 400-500 meter, SPR-1 ini bisa menembus baja dengan ketebalan 5 mm. "Dengan jarak tembaknya cuma 400-500 meter, baru baja itu bisa bolong," kata Windu.

Sementara, SPR-2 dan SPR-3 bisa menembak dengan jarak hingga 1,5 km. Secara keseluruhan SPR-2 dan SPR-3 bisa menembak efektif meski musuh berada pada jarak 2 km. Namun karena keterbatasan teropong pada senapan ini, sehingga hanya efektif menjangkau sampai 1,5 km.

"Dengan peluru 12,7 mm x 108 ini, SPR-2 bisa bikin bolong lapis baja tank dengan ketebalan 1 cm. Kalau SPR-3 bisa merobek ketebalan baja sampai 3 cm. Itu semua dengan jarak tank ada di 1 sampai 1,5 km," Windu menjelaskan.

Ketiga senapan penembak jitu itu sudah dilengkapi dengan peredam suara. Meski tidak secara signifikan menurunkan suara letusan senapan. "Tapi area aman si penembak jitu itu kan di bawah radius 1 km. Karena biasanya penembak jitu selalu ambil posisi tembak dengan jarak 1-2 km, jadi tidak kedengaran suara tembakannya kalau jaraknya segitu," kata dia.

Senapan ini terilhami produk-produk senapan tembus baja tank yang sudah ada. Namun untuk SPR ini PT Pindad sudah mendesain sendiri bentuknya dengan harga yang relatif murah. Walaupun pada sebagian sosok masih mengambil desain dari Black Arrow M93 dan NTW-20 produksi Afrika Selatan yang harganya berada di atas Rp1 miliar.

Produk senjata sejenis sudah ada. Misalnya Gepard M1/M2 (Hongaria, kaliber .50), Barret M82, M90 dan M95, M99, serta M-107 (Amerika, kaliber .50), SVN-98 (Rusia, kaliber 12,7 mm x 108), Steyr IWS-2000 (Austria, kaliber .50 dan 12,7 mm x 108), PGR UM-Hecate (Prancis, kaliber .50), AI AS (Inggris, kaliber .50), dan NTW-20 (Afrika Selatan, kaliber 20 mm).

Penggunaan senapan penembak jitu antimaterial tembus lapis baja tank ini sudah digunakan sejak Perang Dunia II pada tahun 1939-1945 oleh pasukan Nazi Jerman yang menggunakan Mauser Tank-Gewehr Model 1918 kaliber .51, Jepang dengan Tipe 97 kaliber 20 mm, dan Inggris dengan Boys Antitank Rifle kaliber .55.

Ketiga pasukan tersebut menggunakannya untuk menghantam masing-masing musuhnya, yang berlindung di balik tembok atau berada dalam kendaraan lapis baja.

Usai perang, berbagai negara terutama Amerika, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa Timur kemudian mengembangkan dengan menggunakan peluru kaliber .50 atau biasa disebut dengan kaliber 12,7 mm x 99 dan kaliber 12,7 mm x 108, yang menjadi standar senapan mesin berat mereka. Dari berbagai negara yang ikut memproduksi senapan antimaterial ini, Jerman, Amerika, dan Rusia yang paling banyak membuat aneka produk sejenis. 


 Pindad Dalam Pengembangan Senjata Anti Air laut

PT Pindad tak hanya membuat sejumlah varian dari Senapan Serbu (SS) saja, tapi juga berencana membuat varian dari SS versi 2 (SS-2) yang tahan terhadap oksidasi atau anti karat akibat air laut. Varian SS-2 ini khusus dibuat untuk TNI Angkatan Laut.

Namun, staf Penjualan dan Pemasaran PT Pindad, Mutiara Erning, menjelaskan varian ini masih dalam tahap pengembangan, sehingga belum diketahui kapan resmi diproduksi. "Belum diproduksi, masih dalam pengembangan antara PT Pindad dengan Angkatan Laut," kata Mutiara kepada VIVAnews di Indo Defence 2012 Expo & Forum, Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat 9 November 2012.

PT Pindad, kata Mutiara, memang sengaja terus mengembangkan beberapa varian lainnya. Salah satunya adalah varian yang anti karat. "Pindad nanti bikin varian yang anti oksidasi. Caranya dengan menggunakan marinisme atau pelapisan yang tahan karat dan air laut. Pelapisan ini tentu beda dengan pelapisan SS-2 varian sebelumnya," ucap dia.

Senapa Serbu produksi PT Pindad sendiri sudah memiliki dua versi, SS-1 dan SS-2. Khusus untuk SS2, sudah memiliki sejumlah varian, yakni SS2-V1, SS2-V2, SS2-V4HB, dan SS2-V5.

Staf Desain Produk PT Pindad, Windu Paramata menambahkan, dengan menggunakan SS2-V4HB, TNI sudah lima kali menjuarai lomba tembak tingkat internasional. "SS2-V4HB menggunakan peluru kaliber 5,56 mm dengan jarak tembak efektif 600 meter," kata dia.

Di ajang Indo Defence ini, PT Pindad memamerkan beberapa senjata produksinya, di antaranya SS versi 2 (SS2), Hand Gun G-2 versi elite dan Combat, serta Senapan Penembak Runduk (SPR) yang digunakan untuk para penembak jitu.





Sumber : Vivanews

Senjata Murah Saingan Berat Berat Pindad

JAKARTA-(IDB) : PT Pindad (persero) menyatakan saat ini bersaing ketat dengan alat-alat militer buatan China yang menawarkan harga murah serta berkualitas.

Hal ini disampaikan oleh Staf Ahli Pindad Teguh kepada detikFinance dalam pameran Indo Defence Expo 2012 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (9/11/2012).

"China menjadi saingan terberat kita soal pemasaran alat perang," kata Teguh singkat.

Menurut Teguh, China dengan produk murahnya mudah untuk membuat calon pembeli tergiur. Tetapi Pindad memastikan akan terus berkompetisi secara sehat.

"Pindad bisa berkompetisi soal harga, kita juga murah dan kita lebih berkualitas. Ini sudah diakui di banyak negara," paparnya.

Saat ini pasaran alat dan kendaraan militer Pindad sudah memasuki negara ASEAN, Australia, dan Korea. Bahkan merambah ke ranah Eropa sebut saja Prancis, Jerman, Turki, dan Bosnia.

Menurut Teguh dari banyaknya pasar Pindad, salah satu negara yang paling setia untuk membeli alat dan kendaraan militer Pindad adalah Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

"Produk seperti bom, senjata baik senapan jenis SS2, pistol jenis G2 dan amunisi juga kendaraan tempur laku dijual. Khusus untuk negara Singapura, mereka yang paling setia beli dari kami," cetusnya.

Pindad Siap Serbu Irak

PT Pindad (Persero), BUMN yang bergerak memproduksi alat tempur siap menyerbu pasar Irak. Rencana ini akan segera terealisasi dalam waktu dekat.

"Ini adalah himbauan dari Pak Dahlan Iskan untuk ekspansi ke sana," tutur staf ahli PT Pindad (Persero) Teguh saat ditemui detikFinance dalam acara Indo Defence di JIE Kemayoran Jakarta, Jumat (8/11/2012).

Menurutnya, Dahlan Iskan terinspirasi oleh Pasukan Garuda yang saat ini sedang bertugas di Libanon. Dahlan Iskan berpendapat mengapa Indonesia tidak menjual senjata buatan Pindad ke Irak.

"Pak Dahlan terinspirasi Pasukan Garuda di Libanon dan ada peluang untuk menjual kesana," katanya.

Rencana ini masih menunggu perjanjian bilateral antara Indonesia dan Irak. Jika perjanjian berjalan mulus, maka PT Pindad (Persero) siap memasarkan semua jenis produknya ke negara rawan konflik tersebut.

"Sudah ada delegasi dari Irak yang datang kepada kami (Pindad). Tinggal menunggu agreement saja dari Irak dan Indonesia. Selain itu Pindad harus selesai juga memenuhi kuota kebutuhan TNI sampai 60% baru kami bisa jual kesana," cetusnya.






Sumber : Detik


Beretta ARX-160 Calon Senjata Satuan Khusus Indonesia

Kamis, 08 November 2012
JAKARTA-(IDB) : Dalam IDAM 2012, boleh dibilang untuk senjata ringan tidak ada hal yang benar-benar baru. Yang paling getol membawa berbagai jenis senapan serbu dan pistol hanyalah Rosoboronexport dari Rusia, Modiar dari Azerbaijan, dan Cekoslovakia. Modelnya juga tak jauh-jauh dari keluarga besar AK, jadi rasanya hambar seperti salah satu kawan kami, Didik Sudharmaji yang dengan berbagai alasan tidak jadi ikut dengan regu ARC untuk mengunjungi IDAM di detik-detik terakhir.

Namun saat berkeliling dalam rangka mencari berbagai brosur dan leaflet untuk bahan koleksi, pandangan mata kami yang memang suka jelalatan memandangi spg-spg, yang dalam pameran kali ini masih banyak didominasi oleh pria dan wanita berkebangsaan asing. Mata kami tertumbuk pada salah satu stan yang dibuka oleh agen. 

Sepasang senapan berbahan polimer merk Beretta berdiri diatas stand. Yang berwarna hitam menggunakan magasen STANAG milik M16, sementara yang berwarna FDE (Flat Dark Earth) menggunakan magasen M16. Senjata apakah gerangan? ARC termasuk jarang melihatnya.

Beruntung, sales berkebangsaan Italia yang berdiri di dekat stand dengan ramah mencoba menjelaskan, dan menjadi antusias ketika ARC menyebutkan bahwa rombongan datang dari ARC, situs independen penggila hal-hal berbau pertahanan dan alutsista. 

Belum lagi wajah salesnya yang khas mediteran, membuat sekjend ARC, Dicky, tak lepas-lepas memandangnya.

Penulis sekilas sudah mengetahui, kalau senjata yang satu ini namanya ARX-160, bagian dari rencana Italia untuk mengembangkan prajurit masa depannya dengan nama Soldato Futuro. Senapan serbu tersebut dibuat oleh Beretta, pabrik senjata tertua di tataran Eropa dan mungkin dunia. Senapan berbahan polimer? Penulis awalnya skeptis. Senapan polimer tidak hanya dibuat oleh Beretta saja. Ada Magpul Masada yang dibuat rajanya polimer alutsista, MagPul Company.

 

Namun saat melihat penjelasan sang sales representative yang bersemangat, kami jadi tertarik juga. Dan tidak percuma. ARX160 bolehlah disebut sebagai senapan inovatif. Desainnya sama sekali tidak menggunakan pin, dan banyak menggunakan latch alias tuas. Untuk membuka, menggeser, dan menukar versi cukup dengan sentuhan pada tuas, tanpa pin sama sekali. 

Satu pin diperlukan hanya ketika memasang pelontar granat 40mm. Desainnya sangat ergonomik dan betul-betul memikirkan kebutuhan misi dari si operator. 

Larasnya bisa diganti-ganti dengan mudah. Mau karabin? Ada laras 16”. Mau pertempuran jarak dekat? 

Dengan satu tombol laras bisa lepas dan diganti dengan laras 12”. Keren! Receivernya juga bisa dipertukarkan, antara 7,62mm dan 5,56mm. Bolt 7,62mm (katanya) bisa masuk ke carrier 5,56mm, walaupun dalam presentasi terjadi technical glitch karena perbedaan versi. Si hitam adalah varian A1, sementara si FDE adalah A2.



Kata yang menjual, ARX-160 sudah dipinang salah satu kesatuan khusus Indonesia, dan sedang dalam pertengahan ujicoba mendalam. Hmmmm.... Vivere Pericoloso alias tahun ngeri-ngeri sedap kalau kata kami….




Sumber : ARC

Perlombaan Senjata Negara-Negara Timur Tengah

Minggu, 04 November 2012
TIMTENG-(IDB) : Koran Independent baru-baru ini mengungkapkan bahwa London sedang mengkaji pengiriman jet tempur Typhoon ke kawasan Teluk Persia dengan tujuan untuk menjaga kepentingan negara-negara kawasan dari ancaman Iran. Koran cetakan Inggris itu dalam laporannya mengungkapkan bahwa kemungkinan pengiriman jet tempur canggih tersebut dilakukan menyusul kesepakatan militer antara London dan Abu Dhabi mengenai peningkatan kehadiran militer Inggris di negara-negara Arab.
 
The Independent mengutip pejabat teras Inggris melaporkan rencana besar penempatan jet-jet tempor Typhoon di pangkalan udara al-Zafar, selatan Abu Dhabi, yang saat ini menjadi pangkalan bagi pesawat tempur Perancis dan AS. Penjualan senjata besar-besaran terhadap negara-negara Arab dalam dua dekade terakhir menjadi perlombaan senjata tanpa batas.
 
Sebelumnya, media-media rezim Zionis melaporkan rencana Washington menjual peralatan militer senilai $60 miliar ke sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Kuwait, Oman, dan Uni Emirat Arab. Jerusalem Post mengungkapkan bahwa AS menjual 82 unit jet tempur F-15 senilai $30 miliar ke Arab Saudi. Menyusul Riyadh, Kuwait akan membeli 10 unit F-15 dari AS.
 
Eskalasi pembelian persenjataan dan perlengkapan militer oleh negara-negara Arab dilakukan seiring gencarnya propaganda Iranophobia yang dilancarkan media mainstream. Terprovokasi dalih infaktual itu, raja-raja Arab menggunakan uang hasil penjualan minyak untuk menimbun persenjataan dan perlengkapan militer yang dibeli dari negara-negara Barat. Dilaporkan, dalam kurun waktu lima tahun saja terjadi peningkatan pembelian persenjataan dan perlengkapan dan militer sebesar 20 persen dari tahun 2004 hingga 2009.
 
Ironisnya, Uni Emirat Arab dengan populasi penduduk sekitar enam juta jiwa merupakan pembeli persenjataan dan perlengkapan militer terbesar keempat dunia setelah Cina, India dan Korea Selatan. Abu Dhabi membeli lebih dari 60 persen kebutuhan militernya dari AS. 
 
Fenomena perlombaan pembelian senjata itu berlangsung di saat negara-negara pemasok persenjataan dan perlengkapan  militer terbesar seperti AS, Jerman, Perancis dan Inggris merupakan sejumlah negara yang paling getol melancarkan kampanye hitam anti Iran di dunia. Gelombang propaganda Iranophobia yang dijadikan dalih perlombaan senjata di kawasan Timur Tengah berlangsung di saat negara-negara Barat sedang menghadapi krisis ekonomi yang semakin akut.
 
Sejatinya, isu anti Iran yang dilancarkan media mainstream dan negara-negara Barat dilakukan dengan dua tujuan. Pertama menyudutkan Iran di arena internasional, sekaligus menyelamatkan perekonomian mereka yang diterjang badai krisis dengan mengenjot penjualan persenjataan dan perlengkapan militer ke negara-negara Arab.




Sumber : Irib

Setelah SS2 Meraih Sukses, G2 Segera Menyusul Berikutnya

Kamis, 18 Oktober 2012
BANDUNG-(IDB) : Senjata buatan PT Pindad terus menorehkan prestasi di sejumlah lomba militer internasional. Selain Senapan Serbu (SS) 2, pistol G2 yang mulai dikembangkan pada tahun 2011 juga berhasil menyabet medali emas dalam ajang internasional.

"Tahun 2012 digunakan di Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) dan memenangkan medali emas," kata Kepala Sekretaris Perusahaan PT Pindad, Iwan Kusdiana, di Bandung, Jawa Barat, Selasa 16 Oktober 2012.

Pistol G2 ini memiliki dua tipe, yakni Elite kaliber 9x19 mm dan Combat kaliber 9x19 mm. Kedua senjata ini bisa diisi dengan 15 peluru. Jangkauan tembaknya pun juga tak kalah dari pistol buatan negara lain. "Kedua pistol G2 ini bisa efektif menembak hingga jarak 25 meter," kata Iwan.

Sejak 2001, Iwan menambahkan, pistol G2 ini sudah diproduksi sebanyak 5.000 unit. Namun demikian, saat ini belum banyak yang memesan pistol jenis ini. Pistol ini belum banyak dikenal. "Baru dari TNI AD saja yang memesan," ujarnya.

Sebelumnya, Senjata Serbu 2 (SS2) buatan PT Pindad juga telah sukses mengantar TNI beberapa kali juara lomba menembak tingkat Asia-Pasifik. Bahkan anggota TNI berhasil mengalahkan jago-jago tembak dari berbagai negara dalam ajang AASAM 2012 di Australia itu.




Sumber : Vivanews
 

Gossip Selebrities Copyright © 2011-2012 Supported by: cara membuat blog | Powered by Blogger